Sebuah perjananan tanpa akhir dari kegelintir manusia tak berarti yang terangkum dalam sebuah puisi dari sebatang lilin yang mati...
merah warna api merapi
sebuah pesan tuhan dari langit
“tersenyumlah wahai umat bumi!”
anginnya bersembunyi dibalik bayang-bayang manusia tak berarti
gemuruh takbir di tiap tepi mesjid
gemuruh raungan maut di ruang kusut
merapi hanya lukisan diatas burj dubai yang berlumut
langkah kaki membawa getaran lempeng tektonik
kupu-kupu terbang menyelamatkan dari arsenik
butiran air mata terselip diantara gelombang elektromagnetik
dan anak-anak berlari mengitari bola api di lingkaran kebahagiaan
tiap putaran roda menyimpan peti mati keabadian
tiap gerakan menyimpan butiran tanaman di taman tuhan
tiap tawaan dan tangisan menyimpan pelajaran kemanusiaan
dan di tiap manusia, ada keabadian tuhan yang tak dapat disimpan
pagi yang kelam!
di malam penuh cobaan
lamanya musim disepanjang kelamnya hitam
di sudut-sudut, tertumpuk bangunan makanan
lalu manusia-manusia itu hanya meninggalkan kata dalam lembaran kusam
“hanya senyuman dari sekelompok tawanan yang bisa diberikan, kawan...”
Hanya Kuda yang menjadi 'burok' saya, fadil, dani, bandega, dan arif.. Kami menggenggam segumpal darah untuk merahnya merapi di saat jalarkan laharnya ke Yogya.. Kisah sederhana. Sederhanakanlah ~